Go to Gumul Monument

9:22 AM

Gue udah menjadi anak rantau semenjak SMA, kelas 10. SMA gue di salah satu boarding school keren dan membanggakan, berdiri dengan gagahnya dikelilingi kebun nanas, di salah satu kabupaten Bandung yang sangat bisa dipastikan kalo misalnya gue baru datang dari Bengkulu, sehari dua hari disana gue bakal pilek, dingin bro!
I was 15 years old, didn’t know anything, dilepas ke suatu daerah yang beratus-ratus kilometer jauhnya dari tempat asal gue. Lucky for me, gue nggak harus mengurus semuanya sendiri disana, because I lived at boarding, semuanya diatur, I mean, diurusin. EHEM. Jadi, ketika kali lain gue “terdampar” lagi di tempat yang lebih jauh lagi dari Bengkulu, yaitu Pare, I felt as usual. Periode homesick gue udah lewat beratus-ratus hari yang lalu ketika kelas 10. I remembered, I had cried a lot after a week staying in boarding, telfon pertama abis MOS. OH MAN.
So, Pare is my second destination gue merantau jauh dari rumah, karena udah nggak pusing dengan homesick atau penyesuaian ‘semuanya harus sendiri’, gue langsung interested banget sama Pare. All of it. People, atmosphere, language, or just a simple thing like some foods. THIS IS NEW FOR ME. Gue kepo banget, gue pengen menjelajahi semuanya, dan target utama gue adalah Simpang Lima Gumul. 
Okay, It’s sounds overact, but I amazed when I see it for the first time. Its aura definitely different with something in Paris, its carving too, okay ini sok tahu, I haven’t gone to Paris. So, maybe it’s just me which soooo enthusiastic, because I seldom see a kind of it. Monument. I couldn’t remember if something like it is in Sumatra. OH YA, Fort Malborough. The big british fort in Bengkulu. Honestly, it’s not the monument, more than that. But, I feel usual for Malborough, soalnya gue udah main-main disana sejak kelas 1 SD. Yah, oke, so we can call it ini sesuatu yang baru bagi gue, and I’m always under the spell of new something!
Karena itu, gue langsung mengiyakan ketika beberapa teman di kelas invited me to go there, soalnya itu minggu terakhir mereka di Pare. By the way, I haven’t introduced my friends here, but not now, I will make it in other post, but lemme tell you just for this group which invited me. 
Gue anak baru di hari pertama, Selasa, bersama lima orang anak lainnya. Kemudian, di hari kedua, gabung empat orang anak Jember ke kelas kami. They had been in Pare since one or two months ago, I forget, and they had a special class, such private. Karena udah minggu terakhir, mereka gabung ke gue dan yang lain. Tiga cewek, satu cowok, dan mereka rame bange, baik banget, pede banget. Seketika kelas gue jadi hidup. Yang baik banget Mbak Oline, yang pinter, Mbak Sofia, yang pede banget Zulfa, last not least, Mas Suluh, teman debat mereka. Okay, cukup perkenalannya, intinya mereka ngajakin bareng-bareng ke Gumul Sabtu sore, gue langsung iyain.
But I remember, I just realized on the road back to Beswin, gue nggak terlalu kenal mereka, kita baru beberapa hari sekelas, dan gue orangnya rada jaim kalau bareng orang baru. Malu-malu minta ditabok gitu loh. What a suck, fath. Tapi yaudahlah, let it flow, sebodo amat dengan hal kecil begitu. 
Sabtu sore, kita kumpul di depan Beswin Camp. Gue, Zulfa, dan Mbak Sofia naik becak motor, sedangkan Mas Suluh, Mbak Oline dan Fifa naik sepeda. Padahal gumul lumayan jauh, enggak, honestly that’s DEFINETELY SO FAR AWAY FROM PARE. Tapi mereka tetap naik sepeda, malah ngebut meninggalkan kami di belakang, yaudahlah. Lalu, belum nyampe semperempat jalan, Fifa dan Mbak Oline balik lagi ke arah berlawanan, berusaha menjelaskan ke kami yang melihat mereka dari jauh, we didn’t understand anything though. Apparantely, they already had realized riding bike to gumul it’s such a bad idea except you used to exercise and have good stamina. Berarti mas Suluh tetap dengan pendiriannya naik sepeda. Okay, let us assumed that Suluh had a good stamina. Right.
Perjalanan naik becak motor was one of the new something for me, karena di Bengkulu nggak ada. Walaupun sebenarnya nggak ada bedanya dengan becak kayuh, we sat shoulder to shoulder, no space, melipat kaki untuk menghemat tempat, karena memang ukurannya sama persis, bedanya ini lebih cepat aja karena pake mesin. We took for about a half hour until finally the binggest monument in Kediri had been standing in front of us. WELCOME TO GUMUL!
source: google
Monumen Simpang Lima Gumul, singkatnya SLG, persis terletak di tengah pertemuan lima jalan, Gampangrejo, Pagu, Pare, Pesantren, dan Plosoklaten. Dibangun sejak tahun 2003 dan diresmikan tahun 2008. Berbeda dengan Arch de Triumph yang dibangun untuk memperingati Revolusi Perancis, dan Perang Napoleon, sebenarnya belum jelas monument ini dibangun karena apa. Tapi banyak sumber menyebutkan SLG didirikan karena terinspirasi dari Jongko Joyoboyo, raja dari kerajaan Kediri abad ke-12 yang ingin menyatukan lima wilayah di Kabupaten Kediri.
Kita nyampe jam lima sore, SLG udah cukup ramai, dan semakin malam akan semakin ramai, apalagi ini weekend. OH WAW, malam minggu pertama gue di Pare udah nongkrong di Gumul aja, fix gue udah bisa dinobatkan jadi anak gaul Pare #hazek. We took a lot photos dari berbagai sudut gumul seiring dengan matahari yang perlahan-lahan beranjak turun.
SLG cakep banget ketika malam dengan lampu-lampu disekeliling yang sudah dinyalakan. Menyorot sang bangunan utama dari berbagai arah. Di beberapa bagian terpahat relief-relief tentang sejarah Kediri dan beberapa kesenian zaman sekarang. At each corner of SLG, there is statue of Ganesha, one of the deities which has beed adored by Hindus people sebagai Dewa Pengetahuan dan Kecerdasan, Dewa Pelindung, Dewa Penolak Bala dan Dewa Kebijaksanaan.
Yang berdua di ujung asik banget. Gue sendiri di tengah aja udah bahagia.
Maghribnya kita turun ke bagian bawah bangunan, ternyata ada semacam terowongan besar bawah tanah yang lalu tersambung ke bagian entah dimananya Gumul, yang jelas ketika gue keluar dari terowongan dan berjalan sebentar, gue bisa melihat puncak SLG dari kejauhan. Singkatnya ada tiga jalan masuk bawah tanah, dan sampai hari terakhir gue di Kediri, Pare specifically, gue nggak tahu pintu masuk tiga jalan itu, because I always jumped on the chain around it, like others.
this is the tunnel that can bring you to the new world!
Alice in wonderland? Hmm.
Gue dan yang lain makan di pedagang kaki lima di darah Pasar Tugu, tidak jauh dari pintu keluar terowongan besar tadi. Banyak banget tersedia pilihan makanan karena yang jualan juga banyak banget, bukan hanya makanan atau snack macam sosis bakar, there were people that sell clothes too. Gue berasa lagi di pasar malam. Jadi bisa dibilang dengan adanya SLG ini juga membantu perekonomian masayarakat Kediri, especially yang tinggal di sekitar sana. Bahkan kabarnya the government will build several public facilities here.
Sekitaran jam delapan, setelah puas berfoto, makan dengan kenyang, dan keliling-keliling pasar tanpa membeli apapun, gue dan yang lain pulang, menaiki becak motor yang sama karena kita memang membayar dengan tarif pulang-pergi.
WATDA BEAUTIFUL DAY! THANKS!

And now I wanna give some advice, for you all if you wanna go to Gumul from Pare. There are several choice that you can choose, 
First, taking becak motor, same as me. Harganya lumayan, sangat lumayan, padahal kita udah nego mati-matian. We paid 75k for taking us round-trip, jadi patungan 25k per orang.
Keunggulan : - terjamin pulang pergi, nggak pusing lagi nyari kendaraan baliknya gimana.
Kerugian : - lumayan banget kalau bayar sendiri. Bisa lebih murah, patungan bertiga, tapi dengan konsekuensi duduk khas becak banget.
- Harus pinter negosiasi. You can get cheaper or more expensive than my fare.
Second, getting bus. Gue pernah kali lain ke Gumul naik bus bareng temen, and I paid just 8k. Tapi itu baru pergi doang, belum dihitung becak ke tempat nunggu busnya, gue lupa berapa. Terus pulang ke Pare nya karena kita abis hangout di Kediri kota, we took a small car (please don’t think abt Uber or Grab car, it was just … um, public transportation), and I paid 15k. Jadi totalnya 23k, ditambah bayar becak mungkin itu mencapai 25k juga. Maybe it will get cheaper if you take a car around Gumul, but I don’t know where the place is that you can wait it there.
Third, riding bike. This is the bad choice if you don’t have good stamina as I said before. Teman gue yang lain pernah, pagi-pagi sekitar jam 5 lewat, she and her friend rode a bike to Gumul. Karena suasana Gumul ketika pagi dan malam gives a different atmosphere, dan dia pengen liat yang pagi, so she did it. Pulangnya dia tepar, dan besoknya dia tidur hamper seharian karena badannya sakit-sakit semua.
Fourth, leasing a motorcycle. Bebas. Tapi gue nggak pernah nyewa motor selama di Pare, karena selalu dapat tebengan. WAHAHA. So, gue nggak tahu tarifnya, jadi ini tidak membantu. Oke.
BYE!

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts