Arrived in Pare, English Village
7:45 PM
Gue ceritanya muter-muter ya. Ini baru nyampe Kediri padahal sebelumnya udah cerita cekcok dengan mamang nasi goreng. Ya enggak apa-apa sih. Soalnya itu cerita yang paling siap di publish. Jadi banyak banget cerita di laptop yang mengantri buat di posting. Enjoy!
We can imagine our brain is the BIG AWESOME storage which can keep everything. Entah itu yang datangnya dari penglihatan, pendengaran, penciuman, atau hanya sekedar perasaan. Otak menyimpannya dengan baik loh. Dikelompokkan berdasarkan banyak kategori, melabelnya, dan menyimpannya di tempat-tempat tertentu. Sering kali kalau beberapa ingatan jarang "dibuka" kembali, our brain has system which delete automatically several memories.
Again, if we assume our brain as the handycam which has a lot of memory cards that have been named on it, agaknya, in my brain, memory card dengan label "PARE" terletak paling depan rak, atau seandainya disusun berdasarkan alphabet, si doi tetap ditaro bagian depan karena namanya jadi "AA.PARE". Soalnya tanpa gue kehendaki, disaat-saat tertentu gue ingat beberapa kejadian yang gue sempat lupa kalau gue pernah mengalami itu. Atau tiba-tiba cuma gara-gara suatu lagu, gue lansung ingat secara lengkap salah satu peristiwa. Random banget memang apapun yang berhubungan dengan memori. Nah, karena tampaknya a lot of memories ini memang "meminta" untuk lebih diabadikan, tidak hanya lewat foto tapi juga lewat tulisan, gue mencoba menulis kembali kisah gue di Pare.
Okay, the story begin when I came to stasiun Kediri, hari Senin, jam 6 pagi. Setelah mengalami perjalanan jauh sejak sore kemarin nya dari stasiun Gambir,kondisi gue kacau banget, kurang tidur, badan gue pegel-pegel walaupun di kereta kakinya bisa selonjoran, perut gue begah, dan cuaca disekeliling gue nggak jelas. Dingin tapi gue gerah. Mungkin efek belum mandi sejak sore kemarin.
I and my father took travel to English Village with Afi and her father. Anak depok yang udah satu gerbong dari semalam, terus kita sama-sama stuck menunggu sesuatu di stasiun, dan ternyata dia mau ke Pare juga. Dari stasiun Kediri kira-kira memakan waktu satu setengah jam menuju Pare, gue nggak begitu ingat sekarang. Gue mau tidur di mobil nggak pewe, tapi mata juga nggak fokus ngeliat jalanan pagi Kediri. Mata gue baru aware sekeliling ketika sebuah monumen besar dilewati oleh mobil travel kami, looks like Arch de Triumph di Paris, yaitu Simpang Lima Gumul, Kediri. The awesome bulding, cool! Mungkin ada saatnya nanti gue hang out kesana.
Berbelas menit kemudian, salah satu yang menarik perhatian gue lagi adalah tulisan yang terpahat di batu ukuran cukup gede, ditaro di salah satu sudut simpang yang pas banget menghadap arah jalan.
Selamat datang di Pare, bla … bla … bla …. Gue bengong.
Eh ini udah nyampe? Ini Kampung Inggris itu? Eh gerbangnya mana nih? Gapura, apa kek, gitu misalnya.
Soalnya gue nggak berasa memasuki sebuah "kampung" which commonly has something like gate. Mobil kita setelah melewati batu itu langsung belok kanan menuju jalan besar.
Soalnya gue nggak berasa memasuki sebuah "kampung" which commonly has something like gate. Mobil kita setelah melewati batu itu langsung belok kanan menuju jalan besar.
Lalu kampungnya dimana dan yang mana?
OH. Ternyata dan ternyata gue salah persepsi selama ini, dan mungkin untuk beberapa orang diluar sana ketika mendengar tentang Kampung Inggris. Yang gue bayangkan adalah gue akan datang ke suatu kawasan besar, yang udah dibatesin pagar, atau tanaman, atau apapun itulah namanya untuk membatasi daerah. Lalu di dalamnya banyak dibangun rumah-rumah atau pondok. Intinya yang gue bayangkan adalah satu kawasan besar yang terpusat. Tetapi itu beda banget ternyata. Oke, nanti akan gue jelasin menurut pemahaman gue sendiri setelah menjelajah lingkungan Pare.
Balik lagi ke gue dan Afi yang udah linglung banget abis turun dari kereta, lalu naik travel, dan sekarang berdiri di depan sebuah course, Global English. Kita bingung, laper, dan kacau. Setelah beberapa lama berdiri dan menunggu sesuatu yang nggak jelas sebenarnya, Afi masuk buat daftar di GES, dan gue bareng mbak Tessa—orang Bengkulu yang baru kenal disana tapi udah lama di Pare—dianterin ke Beswan.
![]() |
| source : google. Mana sempat ngeluarin kamera -_- |
Beswan terletak di jalan Anyelir, beda dengan GE yang terletak di jalan Brawijaya, tapi kedua jalan itu termasuk jalan utama Kampung Inggris ini. We're taking miss Tessa's motorcycle, fortunately, soalnya gue udah nggak kuat kalo harus jalan. Gue belum makan, belum mandi, belum beres-beres, belum semuanya. Intinya semua masih belum gue handle, it made my mood soooo bad, and I was lazy to do something, eventhough Beswan had been standing in front of me proudly.
Seperti kebanyakan kursus lain, terpampang dengan jelas di depan mata gue, gede banget, B.E.S.W.A.N Best English Study With Achievement Need. Pintu terbuka lebar ditengah dan office di bagian kanan pintu. Gue masuk, di bagian kiri ada dua jalan, satu mengarah ke samping, mungkin langsung terhubung ke bagian belakang gedung, satu lagi kebagian dalam salah satu kelas. Tanpa pintu, karena itu gue bisa melihat ada beberapa anak duduk lesehan disana, tapi gue nggak tertarik mendekat, cuma melihat sekilas. Mungkin lebih ke sadar diri kondisi gue udah cukup kacau untuk melongok-longok ke dalam, lagipula tampang gue nggak memesona bak Chelsea Islan untuk menyedot perhatian sebagai anak baru, yang adanya gue dianggap anak nyasar. Ditambah sekarang gue sendiri, karena ayah masih di GE untuk mengurus pembayaran travel bersama Afi's dad. Sepakat, gue bak anak nyasar yang kehilangan orangtua dengan perut keroncongan dan kepala nyut-nyutan tanpa sebab.
Seperti kebanyakan kursus lain, terpampang dengan jelas di depan mata gue, gede banget, B.E.S.W.A.N Best English Study With Achievement Need. Pintu terbuka lebar ditengah dan office di bagian kanan pintu. Gue masuk, di bagian kiri ada dua jalan, satu mengarah ke samping, mungkin langsung terhubung ke bagian belakang gedung, satu lagi kebagian dalam salah satu kelas. Tanpa pintu, karena itu gue bisa melihat ada beberapa anak duduk lesehan disana, tapi gue nggak tertarik mendekat, cuma melihat sekilas. Mungkin lebih ke sadar diri kondisi gue udah cukup kacau untuk melongok-longok ke dalam, lagipula tampang gue nggak memesona bak Chelsea Islan untuk menyedot perhatian sebagai anak baru, yang adanya gue dianggap anak nyasar. Ditambah sekarang gue sendiri, karena ayah masih di GE untuk mengurus pembayaran travel bersama Afi's dad. Sepakat, gue bak anak nyasar yang kehilangan orangtua dengan perut keroncongan dan kepala nyut-nyutan tanpa sebab.
![]() |
| source : dokumentasi pribadi |
Mbak Dewi, as the officer, menyodorkan brosur Beswan ke gue dan menjelaskan beberapa hal mengenai course, cost, camp, schedule, lessons, blah ... blah ... blah. Gue mengangguk-angguk berusaha mengerti, sok berfikir, mempertimbangkan banyak hal, padahal aslinya dalam otak gue kosong. BLAH. Ingin rasanya gue balik lagi ke GE, bukan karena gue males take course di Beswan, tapi lebih dikarenakan disana gue udah kenal Afi, walaupun just a moment, dan ada ayah gue, setidaknya beliau yang akan mempertimbangkan berbagai hal, dan gue tinggal setuju. BUT, di sisi lain otak gue menolak, bahkan memaki diri gue sendiri because that's a really really spoiled character and I musn't do it!
Oke. Karena gue nggak mau kalah dengan sisi diri gue yang lain, gue dengan cepat menyelesaikan pendaftaran kursus dan camp. Lagipula, ummi sudah pernah mengontak pemilik Beswan, Mr. Hadi, sebelum gue datang ke Pare. Karena ternyata Mr.Hadi's wife adalah orang Bengkulu, she is friend of my mam's friend. Oke, ribet, tapi intinya begitu. Then, Miss Dewi accompanied me to go to my new camp. Honestly, it wasn't really far from Beswan, I just need about 5 minutes to take a walk, but I felt it took so looooong time. Kaki gue udah pegel daritadi.
Nyampe sana, spanduk Beswin Girl Camp tergantung di bagian kiri pintu masuk. Bentuknya berbeda dengan tempat kosan gue di Depok, when I had to prepare for SBMPTN test. Di depok bangunannya bertingkat dua, sedangkan Beswin Camp hanya mempuyai satu lantai dengan konsep melebar ke samping, bukan ke atas. That's why it called "camp", perhaps.
Pintu depan terbuat dari tralis tinggi dengan dua gembok yang digantungkan tidak jauh darisana, lalu gue disambut lorong yang mengantarkan ke ruang penerima tamu. Ada dua kursi tamu, satu meja kecil, dan tulisan yang langsung menarik perhatian gue,
“BOY MUSN’T ENTER”. Kemudian, tirai hijau yang berada di bagian kanan ruangan adalah pembatas ke tempat lain. Masuk lewat tirai tersebut terpampanglah halaman bagian dalam Beswin Camp yang langsung beratapkan langit. Luas dan melegakan. Dua dipan panjang dari bamboo ditengah-tengah, beberapa bantal sedang dijemur di atasnya. Lalu yang mengelilingi halaman ini adalah kamar-kamar, dengan pintu bercat hijau yang kebanyakan tertutup.
Mbak dewi disebelah gue menjelaskan beberapa hal, seperti peraturan, kamar gue dimana, kamar mandi, jemuran, tempat masak, dan sebagainya. Gue mengangguk dan tersenyum sambil terus melihat sekeliling.
Cek kamar, naro tas ransel, tapi gue belum selesai. My BIG burden suitcase was still with my dad, I haven't tidied up yet, and I WAS REALLY HUNGRY! . Perut gue berdendang konser Isyana Sarasvati featuring Rhoma Irama dengan dj David Guetta. Kacau. Of course.
Ketemu ayah, ngambil koper, taro kamar lagi, a
khirnya, gue bareng ayah makan di tempat makan yang nggak jauh dari Beswan dan camp baru gue. Lapar sangat. Sangat lapar. Lapar banget. Walaupun gue harus nambahin sambal sampai dua kali lebih karena belum terasa pedas, maafkan lidah sumatra ini kawan, so far, makanannya enak banget. Recharge energy selesai, gue bareng ayah langsung cabut buat nyari penyewaan sepeda.
Nah, the unique habit in English Village is people often use bicycle as one of the primary transportation, especially for students that take course in it. B
anyak banget tempat penyewaan sepeda di sepanjang jalan. Berbagai merk, model, warna. Tinggal pilih. Gue pilih sepeda yang standar cewek, considering the woman seat, karena memang bakal lebih nyaman pas makenya nanti. Tingginya juga disesuaikan, karena bakal pegel banget kalau make sepeda yang rendah dan bakal bahaya kalau make sepeda ketinggian. DONE.
![]() |
| sebagian sepeda yang sempat terabadikan di camp |
Dan agenda terakhir dari hari panjang gue adalah nyari dokter gigi. SUMPAH. GIGI GUE SAKIT BANGET. Maybe, that's the reason for my headache. Gue harap-harap cemas when I asked where the dentist was. U
dah nggak tahu mau ngapain lagi kalo kenyataanya dokter gigi jauh dan butuh kendaraan buat kesana. Makanya pas ngelihat plang dokter gigi yang ternyata nggak jauh dari tempat rental sepeda, bikin gue pengen joget-joget nggak jelas saking senengnya. Masuk, daftar, dan … menunggu. HUAH. Lama. Gue udah berasa mau pingsan. Seabad kemudian semua urusan selesai. Gue dikasih obat, dibilangin jangan lupa sikat gigi, blah … blah …. Akhirnya gue bisa balik ke kosan dengan tenang.
Masalah lain sebenarnya menunggu untuk diselesaikan di kosan, yaitu … barang-barang gue. Koper masih terkunci rapat, tas isi laptop masih tergeletak, gue belum mandi, dan kamar baru gue belum disapu. OH MY. Disaat-saat seperti itulah gue pengen punya kemampuan mengendalikan barang dari jauh, even just with my mind, called it Telekinesis. Atau gue pengen punya doraemon, specially his awesome damn magic pocket, impian setiap anak-anak tahun 90-an. In reality, I am just ordinary girl, that felt surprise when I came to my new room, there was a new comer.
Oow! Nice to meet you my new roomate!




0 komentar