Tau kenapa aku benci ketika tak melakukan apapun?
Karena pada saat itu semua sarafku langsung berkonspirasi menghimpun
Segala sesuatu akan sosokmu yang perlahan tersusun
Semua itu tepat adanya
Saat roda kereta bergulir menderu diiringi kepak burung di udara
Aku terperangkap dalam keheningan semu alunan melodi playlist lama
Silih berganti pemandangan di sudut jendela melengkapi perasaan sunyi yang tiba-tiba menyapa
Kesunyian aneh yang selalu ada
Tiap kali aku menyerahkan pikiranku dikendalikan oleh sang hati, tempat segala kesah bermuara
Di tengah kesayupan obrolan penumpang sekitar, pada semburat kecil langit biru di luar, kubertanya,
.............................................................................................
.
.
.
Titik air perlahan menetes, tampaknya langit tak kuasa menjawab
Tak apa, semesta kaya, tak hanya tentang birunya langit yang perlahan lenyap
Lihat awan gelap yang berarak pelan itu?
Kubisikkan salam padanya dengan irama sendu
Berharap tetes hujan menyampaikannya tepat di kalbu
(03:38 pm _ 13012017)

